Imejinari


Air paip menderu. Dia mengangkat mukanya, ada wajah lesu di dada cermin. Basah. Udara ditarik dalam-dalam lalu dihembus berat, seperti anak kecil meniup seruling—untuk beberapa kalinya tidak berbunyi, hanya kali ini, dia meniup sebuah kesedihan keluar dari rongga jasadnya.

Thom Yorke, di corong radio, berpuisi tentang kehidupannya. Seorang statis yang memuja seorang penghuni dunia yang lain—yang istimewa, terapung bagaikan bulu di dalam dunia yang cantik—seseorang yang dianggapnya bidadari.

Dia tidak setuju pada setiap bait yang dilemparkan lirik itu. Perempuan dengan warna mata berbeza itu, yakni bekas kekasihnya, bukan seperti bidadari dalam lagu. Hatinya sebiji epal yang busuk--diawet lalu dibekukan membentuk kotak empat segi kecil, diasah-asah membentuk berlian namun tidak berhasil lalu dia jadikannya artifak paling penting dalam tubuhnya. Dia simpan lama-lama--mengikut khabar angin, sampai mati.

Kecuali kata-kata terakhir Thom Yorke--yang membisik sesuatu ucapan yang dia perlukan-- perlahan-lahan menyusup, menusuk dan menikam hatinya.

“I don't belong here, I don't belong here..”

Bungkam.

“I belong somewhere. Somewhere over the rainbow,” mungkin, katanya dalam hati. Idea menjengah.

Pintu ditutup, dia keluar dari bilik air, membuka komputer riba, mencari tiket teleportasi ke pelangi. Tiada. Rata-rata pencariannya tidak berhasil. Destinasinya bukan sekadar sebuah negara atau bandar. Ia pelangi, yang tergantung di langit, spektrum warna, biasanya terhasil daripada biasan matahari bertemu dengan titisan hujan. Kalau dengar mitos dari barat, pelangi itu adalah jambatan supernatural ke alam mistik, alam bunian, atau alam kelab kelahi barangkali.

Tidak apa, katanya dalam hati, lalu merizab tiket penerbangan sehala sambil menutup mata, asalkan dapat terbang ke langit, destinasinya tidak kisah di mana. Nanti, dalam perjalanan, dia akan membuka pintu kapal lalu mencekuh pintu pelangi.

Di dalam kapal, di antara ruang-ruang langit, dia tidak menemukan apa-apa. Perlahan-lahan, suara bekas kekasihnya serta kehidupan lalu bersorak riang di kuping, menyambut kedatangannya ke destinasi yang entah di mana. Pelangi bersembunyi, berlari-lari meninggalkannya jauh dari tempat yang dia namakan rumah.

No comments

ORKED MAG aims to stimulate dialogue and debate around social and cultural issues, arts, life and beyond, so we’d love to hear from you. Let us know what you think in the comments or connect with us on Instagram, Twitter and Facebook. Cheerio!