Di Dalam-nya Kosong

Setiap hari, dalam seratus kali, tiap melintasi ruang abstrak jendela, matanya tak jenguh melihat benih yang mula bercambah di antara retakan pada dinding.

Kalei penuh harapan—benih itu akan bercambah dan membesar membentuk paras rupa seorang perempuan yang turun dari langit, memiliki sayap empuk, diikat riben, kemas dan wangi. Lalu dia namakannya Matahari.


Ok lah Matahari, katanya, sebab bulan banyak sangat penunggunya. Banyak sangat manusia yang dambakannya. Sejak akhir-akhir ini, setiap sepi, sedih, cinta, perih; ceritalah, segala-gala yang ada di benak akan dibisik di kuping bulan, lalu jika bulan mempunyai kudrat, maka menyinsinglah dia kainnya, beransur perlahan-lahan mencari pelabuhan kota yang tidak kronik menagih kasih.

Kalei tersipu memikirkan sijil kelahiran bakal isterinya nanti. Berbangsa Yahudi yakni bukan ortodoks, fasih berbahasa Urdu dan Melayu, sengaja meninggalkan ruang kosong pada bahagian agama di atas kertas sebab alasannya, Matahari boleh pilih agama apa-apa saja bila lahir ke dunia.

Setiap hari Kalei melembapkan tanah, setiap hari juga dia berpesan kepada anak pokok itu, yang, kehidupan di dunia ini nanti bukan seperti yang dia jangkakan. Namun dia berjanji, di apartment kurang mewah ini, mereka akan hidup seribu tahun lagi, seperti dalam puisi.

Maka benarlah, pada satu hari, keluarlah seorang perempuan hasil daripada anak benih. Seorang perempuan bak malaikat, sayapnya diikat riben, halo di atas kepala, kemas dan wangi, suci dan masih berbogel, melemparkan senyuman yang paling indah.

Perempuan itu mula berkata, Kalei diberi satu permintaan, yang mana permintaannya akan dimakbulkan dengan segera. Satu sahaja.

Saya tidak mahu apa-apa kecuali kau yang akan mengisi ruang kosong ini, jawab Kalei. Perempuan itu tersipu malu, namun ini adalah tugasnya di sini, katanya menolak lembut.

Tuhan pun sudah mulai menipu, tanya Kalei, lalu menolak perempuan itu keluar dari jendela.

Tidak terjadi apa-apa, kecuali sayap perempuan itu patah-patah tidak mampu terbang.

"Maafkanlah saya. Ini hanya tugas saya," kata perempuan itu sambil menyapu lengannya yang berdebu. Di matanya mulai mengeluarkan cahaya berkaca. Alis bibirnya sedikit berdarah.

Dari sejak awal saya tidak punya apa-apa kecuali kau, yang saya jaga dari benih, kata Kalei sambil duduk bersimpuh di atas tar bersebelahan dengan perempuan itu. Perempuan itu berjanji akan menyediakan Kalei yang lebih baik lepas ini. Lalu berjalanlah perempuan itu, mengusung sayapnya hilang di antara keramaian.

Tidak lama kemudian, ada benih lain yang mulai bercambah di antara retakan dinding apartment Kalei. Lalu Kalei meletakkan lagi sebuah harapan kepadanya. Kali ini, dia tidak merumitkan dirinya, tidak berpesan apa-apa lagi. Hanya mengharapkan yang lebih baik dari sebelumnya, sebelum seperti ini.

Yang Kalei tidak akan tahu pula, nanti, selepas membenih, anak pokok itu akan bercambah dan mulai membesar lalu meretakkan keseluruhan struktur rumah yang didiami, lalu meranapkan segala harta dan jiwanya.

No comments

ORKED MAG aims to stimulate dialogue and debate around social and cultural issues, arts, life and beyond, so we’d love to hear from you. Let us know what you think in the comments or connect with us on Instagram, Twitter and Facebook. Cheerio!