Tak Akan Ada Sajak Pada Malam Ini

sajak-sajak aku
selalunya berbunyi
seperti engkau
adalah manusia
yang kali pertama--

membuat aku tak berhenti menulis
tentang seorang bidadari yang sedang menuang zen
ke alir darah, menghantar puitis masuk ke ruang akal
seperti udara yang menghidupkan tubuh-tubuh

kau suka waktu tulisanku
sampai ke liang hati
yang paling dalam
dan itulah degupan adrenalin
bertukar menjadi energi
dibalut untuk kau yang
selalunya berlari-lari

tapi larimu terlalu
kencang untuk aku kejar,
kau menyuruh aku menjadi
bayang-bayangmu sewaktu
aku bersiap menjadi api

dan sajak-sajak ini
tak selalunya untukmu
kadang aku baluti ia
dan lempar ke perkarangan
orang yang patah-mati
hidup nak kembali

sayang,
sajak semalam
atau lain-lain yang berlalu
adalah subur yang kadangnya
bukan milik engkau atau aku

sajak semalam,
bukan persuratan bahawa
kau milikku, aku milikmu,
takkan ada sajak yang akan
menjadi perhitungan lewat nanti
dan sekalipun begitu
aku tak akan;

menyimpan kau dalam
vinyl-pesona-puitis
membuat kau setiap hari
cair macam lilin
yang tak bersudah

dan untuk kelam menunggu
siang yang agak lama
tak akan ada sajak
pada malam ini


No comments

ORKED MAG aims to stimulate dialogue and debate around social and cultural issues, arts, life and beyond, so we’d love to hear from you. Let us know what you think in the comments or connect with us on Instagram, Twitter and Facebook. Cheerio!